Cerpen Bayang-Bayang Salib di Bukit Golgota

Labuang Bacarita 04 April 2025 121 kali Cerpen Bayang-Bayang Salib di Bukit Golgota

Cerpen Bayang-Bayang Salib di Bukit Golgota ini didasarkan Pada Bacaan "Matius 27 yang di Balut lewat Cerita Pendek untuk Edukasi Anak Dalam Meresapi Perayaan Jumat Agung di Bulan April Tahun 2025.

Mentari pagi di Yerusalem menyingsing dengan enggan, seolah enggan menyaksikan peristiwa kelam yang akan terjadi. Langit kelabu menyelimuti kota, menambah suasana duka yang terasa begitu pekat. Di sebuah sudut kota, kerumunan orang berdesakan, mata mereka tertuju pada tiga salib yang berdiri tegak di Bukit Golgota.


Di salib tengah, tergantung seorang pria yang dikenal sebagai Yesus dari Nazaret. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya penuh luka cambukan, dan mahkota duri melingkar di kepalanya. Di sisi kiri dan kanannya, tergantung dua orang penjahat, menemani penderitaan-Nya.

Kerumunan orang di bawah bukit terbelah menjadi dua. Sebagian besar mencemooh dan menghina Yesus, melontarkan kata-kata kasar dan tuduhan palsu. Para imam kepala dan tua-tua Yahudi, dengan wajah puas, menyaksikan penderitaan orang yang mereka anggap sebagai ancaman itu.

"Jika Engkau Raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!" teriak seorang prajurit Romawi, melemparkan ludah ke arah Yesus.

"Ia menyelamatkan orang lain, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan!" ejek seorang imam.

Namun, di tengah cemoohan itu, ada segelintir orang yang berdiri dengan wajah sedih dan penuh duka. Maria, ibu Yesus, berdiri di bawah salib, hatinya hancur melihat penderitaan putranya. Yohanes, murid yang dikasihi Yesus, berdiri di sampingnya, berusaha menenangkan Maria.

Di sisi lain kerumunan, seorang perwira Romawi, yang memimpin pasukan penjaga, menatap Yesus dengan tatapan penuh tanya. Ia telah menyaksikan banyak hukuman mati, tetapi tidak pernah melihat seseorang yang menderita dengan begitu tenang dan penuh martabat.

Saat tengah hari tiba, langit tiba-tiba menjadi gelap gulita. Gempa bumi mengguncang bukit, membelah batu-batu karang. Kerumunan orang terdiam, ketakutan menyelimuti hati mereka. Perwira Romawi itu, yang masih menatap Yesus, berseru dengan suara gemetar, "Sungguh, Ia ini Anak Allah!"

Yesus, dengan suara lemah, berseru, "Eli, Eli, lama sabakhtani?" (Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?). Tak lama kemudian, Ia berseru dengan suara nyaring, lalu menghembuskan napas terakhir.

Kain tabir Bait Suci robek menjadi dua, dari atas sampai ke bawah. Gempa bumi kembali mengguncang, dan kuburan-kuburan terbuka. Orang-orang kudus yang telah meninggal bangkit dan menampakkan diri di kota Yerusalem.

Peristiwa-peristiwa ajaib itu membuat kerumunan orang ketakutan. Mereka mulai menyadari bahwa Yesus bukanlah orang biasa. Mereka pulang dengan hati yang penuh penyesalan dan ketakutan.

Di bawah salib, Maria menangis tersedu-sedu, memeluk tubuh putranya yang telah mati. Yohanes, dengan hati yang hancur, berusaha menenangkan ibunya. Mereka berdua, bersama segelintir pengikut Yesus, menyaksikan keajaiban dan kengerian hari itu, sebuah hari yang akan mengubah sejarah dunia selamanya.


Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin